🙀 Punya Kucing?? Tahukah Kalau Virrus Toxoplasma Gondii dapat Mempengaruhi Kognitif Manusia??

Toxoplasmosis merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii merupakan parasit yang dapat menginfeksi manusia, khususnya pada individu rentan dan beresiko seperti pada bayi, ibu hamil, dan individu yang memiliki sistem imun rendah. Infeksi Toxoplasma gondii bersifat asimtomatik, artinya gejala-gejala infeksinya tidak terlihat. Lalu, apakah infeksi Toxoplasma gondii tidak hanya berkaitan dengan pengaruh fisik saja, tetapi juga berpengaruh pada aspek psikologis seperti perilaku kognitif manusia?

Toxoplasma gondii merupakan sebuah parasit yang dapat hidup di mamalia berdarah panas, termasuk manusia. Pada manusia, infeksi terjadi melalui kontak dengan feses hewan yang terinfeksi parasit tersebut, khususnya pada hewan kucing. Pada hewan kucing, biasanya ditemukan infeksi Toxoplasma gondii karena parasit tersebut bisa menyempurnakan siklus hidupnya. Bukan hanya dari kucing saja, infeksi pada manusia juga dapat terjadi lewat kontak langsung dengan daging yang terinfeksi, khususnya daging babi. Selain itu, infeksi juga bisa terjadi lewat konsumsi daging yang belum matang dan meminum susu kambing yang belum dipasteurisasi, atau sayur dan buah-buahan yang belum dicuci.

Sudah banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa penyakit toxoplasmosis berkaitan dengan munculnya berbagai gangguan psikiatri, yaitu depresi, skizofrenia, dan bunuh diri (Hutajulu & Hutajulu, 2019).  Infeksi parasit toxoplasma menyebabkan gangguan keseimbangan neurotransmitter dopamin, serotonin, dan glutamat. Infeksi ini juga menyebabkan kerusakan pada sel glial, amigdala, dan korteks prefontal, sehingga menimbulkan suasana hati depresif dan apabila tidak ditangani dengan terapi maka akan muncul pikiran bunuh diri  (Hutajulu & Hutajulu, 2019). Kita tahu betul, serotonin adalah neurotransmitter di otak yang mempengaruhi salah satunya mood kita. Banyak riset yang menyebutkan penderita depresi mengalami kondisi defisiensi serotonin. Bahkan obat-obatan psikiatripun seperti SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibit) menyasar serotonin supaya lebih banyak tersedia di celah neuron (sinaps), sehingga bisa meningkatkan mood pasiennya.

Lalu bagaimana dengan skizofrenia? Apakah bisa toxoplasmosis menyebabkan gangguan berat seperti itu?? Kalau ada potensi mengganggu neurotransmitter dopamin jawabannya bisa saja. Karena memang ketidakseimbangan dopamin dapat berperan dalam munculnya skizofrenia (Creese et al. Sawa & Snyder, dalam Flegr, 2007).

Namun, studi tentang kaitan toxoplasmosis dengan perilaku kognitif perlu dikaji lagi, mengingat di beberapa negara infeksi toxoplasma banyak ditemukan di desa terpencil yang sebagian besar masyarakatnya berpendidikan rendah, sehingga menyebabkan skor tes inteligensi verbalnya juga rendah (Flegr, 2007).

Bertolak belakang dengan hal ini, sebuah penelitian dari Sugden, et al (2016) menunjukkan bukti yang minim bahwa infeksi Toxoplasma gondii berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan kejiwaan, kontrol impuls yang lemah, penyimpangan kepribadian, dan gangguan neurokognitif. Penelitian ini tidak mendukung hipotesis dan perlu dikaji ulang karena penelitian dilakukan dengan metode longitudinal dengan partisipan diteliti dari umur 3 tahun hingga 38 tahun, sehingga banyak data yang hilang karena masa penelitian yang sangat panjang, dan fokus penelitian terbatas hanya pada saat partisipan berumur 38 tahun.

Sedangkan penelitian dari Stock et al (2017) justru mendukung hipotesis bahwa  toxoplasmosis dapat mempengaruhi kontrol kognitif manusia. Penelitian tersebut menguji cobakan 14 partisipan yang negatif toxoplasmosis dan 14 partisipan yang positif toxoplasmosis. Hasilnya menunjukkan bahwa neurotransmitter dopamin yang meningkat terhadap pengaruh infeksi toxoplasmosis dapat meningkatkan semangat untuk mengerjakan tugas-tugas pada eksperimen dengan reward tertentu. Penelitian ini mengujikan efek reward/penghargaan/ganjaran dengan pemberian tugas “Stop-Change Task”. Baik diberi reward ataupun tidak, individu dengan toxoplasma positif yang tingkat dopaminnya naik, dapat meningkatkan performa perilaku terhadap situasi yang menantang. Individu yang positif toxoplasmosis yang diberi reward menunjukkan tingkat akurasi jawaban atas tugas yang lebih tinggi dibanding individu yang negatif toxoplasmosis yang juga diberi reward. Walaupun tidak diberi reward, individu dengan toxoplasmosis menunjukkan pengingkatan performa dalam mengerjakan tugas. Infeksi parasit Toxoplasma gondii dapat memanipulasi perilaku, yang dipengaruhi oleh meningkatnya dopamin. Dopamin mampu meningkatkan kontrol kognitif menjadi lebih baik pada individu dengan toxoplasma positif.

Kok justru ketika dopaminnya meningkat, subjek malah termotivasi?? Padahal di paragraf sebelumnya disebut ada kaitannya dopamin dengan skizofrenia? Yess.. setiap individu punya genetik yang berbeda-beda, ekspresi genetik ini juga mempengaruhi perbedaan kadar atau reaktivitas neurotransmitter di otak. Dan memang dopamin itu memiliki banyak fungsi, selain motivasi dia juga terkait dengan atensi, pergerakan, bahkan terlibat pada proses menyusui ibu. Misalnya saja, ketika individu mengkonsumsi drugs / narkoba, mereka mengalami peningkatan kadar neurotransmitter dopamin di otak, yang pada individu tertentu dapat berpotensi menimbulkan dual diagnosis, yaitu munculnya skizofrenia. Karena teori skizofrenia dan adiksi dopamin kurang lebih mirip, karena sama-sama banjir dopamin di otaknya. Atau untuk lebih jelasnya bisa tonton youtube kita   https://www.youtube.com/watch?v=OEgBgAWIWug .

So.. lebih baik mencegah daripada mengobatii. Minimalisir infeksi Toxoplasma gondii dengan pola hidup sehat, atau ketika punya binatang peliharaan seperti kucing pastikan bebas virus. Atau biar lebih pastinya mungkin kita perlu diskusi atau konsultasi dengan profesional terkait, seperti dokter hewan.

  • Hutajulu, Samuel Gunawan.,& Hutajulu, Margaretha Carolina. (2019). Kejadian Depresi dan Bunuh Diri pada Penderita Toxoplasmosis. Jurnal Keperawatan Jiwa Vol.7 No.3, 232-332
  • Sugden, Karen., et al. (2016). Is Toxoplasma Gondii Infection Related to Brain and Behavior Impairments in Humans? Evidence from a Population-Representative Birth Cohort. Journal Plos One, 1-14. DOI: 10.1371/journal.pone.0148435
  • Stock, Ann-Kathrin. (2017). Humans with Latent Toxoplasmosis Display Altered Reward Modulation of Cognitive Control. Scientific Report Journal. DOI: 10.1038/s41598-017-10926-6
  • Flegr, Jaroslav. (2007). Effects of Toxoplasma on Human Behavior. Schizophrenia Bulletin vol.33 no.3, 757-760

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *