🤯 COVID-19 dan Stress

COVID 19 menjadi isu panas yang mendunia, tidak ada negara yang tidak membahas isu ini. Sebagai virus baru, COVID-19 mudah sekali menyebar, awalnya virus ini disebut menyebar melalui kontak binatang ke binatang yang dimulai dari provinsi WUHAN di Cina. Binatang yang jadi tersangka adalah kelelawar dan tersebar di pasar tradisional yang notabennya menjual berbagai jenis binatang (yes, literally berbagai jenis binatang). Penelitian berkembang, ternyata transmisi virus ini meningkat menjadi manusia ke manusia, sehingga penyebaran virus ini begitu cepat.

Metode penyebaran awalnya melalui droplet atau air liur, lalu berkembang penularannya melalui sentuhan antar manusia. Sekarang, ada lagi penemuan yang menyebutkan COVID-19 ini menular melalui udara (airborne). Hal ini membuat penularan menjadi semakin mudah, yang membuat banyak sekali anjuran dan campaign untuk kita tetap di rumah atau bekerja dari rumah. Itu diperlukan untuk mengurangi resiko penularan. Meskipun COVID-19 ini sembuh-able, akan tetapi kalau banyak orang sekaligus dalam satu waktu membutuhkan bantuan medis, fasilitas kita tidak akan mencukupi. Oleh karena itu, social distancing (menjaga jarak) sementara adalah jalan keluar yang paling praktis.

Untuk informasi mengenai COVID-19 di Indonesia bisa mengikuti berbagai media sosial berikut :

https://www.instagram.com/kemenkes_ri/
https://www.instagram.com/who/
https://kawalcovid19.id

Yang mau saya soroti pada tulisan ini adalah bagaimana masyarakat kita dapat terpicu stress karena pemberitaan media.  Tidak semua masyarakat mengolah berita dan mengerti intisari pesan berita tersebut. Banyak dari mereka yang justru menjadi stress ketika membaca berita.  Misalnya dengan gambar ini :

Atau melihat dari angka-angka yang diberitakan media :

Berita tersebut bagi beberapa orang akan terlihat sebagai sesuatu yang “PASTI” bahaya atau “PASTI” akan sampai ke mereka atau berbagai “PASTI” lainnya. Karena banyak media memang punya style pemberitaan yang agak bombastis agar menarik para pembaca. Tidak salah juga, banyak orang yang dasarnya emosional akan terpancing dengan berita tersebut. Lain dari itu, fokus pada pemberitaan COVID-19 dan tidak membandingkan dengan berbagai kasus kesehatan lainnya membuat kita berpikir inilah yang terburuk. Padahal dibanding dengan kasus demam berdarah saja, COVID-19 belum ada apa-apanya.

Notebaert, dkk (2016) menyebutkan bahwa individu yang punya kecenderungan cemas yang tinggi akan bias dalam menerima informasi. Mereka cenderung mempersepsikan resiko lebih tinggi dan kemungkinan hal-hal negatif akan terjadi. Mereka juga akan terlibat pada perilaku yang tidak tepat. Familiar dengan panic buying beberapa hari kemarin ?

Disisi lain, ketidakpastian juga dapat menimbulkan kecemasan. Ambiguity adalah salah satu aspek yang tidak disukai oleh otak kita. Informasi yang simpang siur, tidak jelas dan tidak tegas dapat memicu kecemasan. Yang saya lihat tidak ada kekompakan antara pemerintah dan pihak swasta, media ataupun stakeholder lainnya. Kondisi ini makin memperparah persepsi masyarakat. Yang perlu kita ketahui ketika stress muncul, hal tersebut dapat menurunkan imun sistem kita. Malah membuat kita berpotensi besar tertular virus tersebut.

Ada risetnya dari Taha, Matheson, Cronin dan Anisman tahun 2014 dikasus pandemic H1N1. Intolerance of uncertainty akan munculin kecemasan, apalagi individu tersebut tidak punya skill atau kemampuan dalam menghadapi stress. Makin jadi deh cemasnyaaa.. Lanjutan dari riset mereka, individu yang dapat mentoleransi keadaan yang tidak pasti memiliki kontrol diri yang lebih mumpuni dan lebih mudah mengambil keputusan problem-focused. Tidak emosional, keputusan yang diambil sesuai dengan kondisi, dengan kecemasan yang rendah.

Lebih jauh kita juga perlu paham apa efek stress pada tubuh kita. Stress akan mengaktifkan sistem tubuh kita, yaitu sistem saraf simpatik dan HPA axis. Yang berujung pada keluarnya hormon cortisol dan adrenalin/ephineprine. Cortisol yang sering terstimulasi akan membuat kondisi hypercortisolemia atau gampangnya disebut kondisi yang Cortisol berlebih dimana dapat menyebabkan menurunnya aktivitas natural killer cell atau sistem alami tubuh kita untuk membunuh para penyusup (virus, bakteri, jamur dan kawan-kawannya).

Leonard, BE & Myint, A (2009) menyebutkan stress yang kronis membuat tingginya konsentrasi pro-inflammatory cytokines. Dalam artian sederhana, Pro = mendukung , Inflammatory = inflamasi atau peradangan. Ketika molekul ini banyak beredar dengan konsentrasi yang tinggi akan membuat kita mudah terserang penyakit.

Jadi, diwaktu dimana kita perlu menjaga imun sistem kita. Kita perlu tetap tenang dan tidak emosional. Tapi apakah semudah itu ? Apalagi buat orang yang pada dasarnya mudah cemas ?

Untuk masyarakat, lakukan social distancing untuk sementara. Jaga kesehatan dengan pola hidup teratur dan  rajin cuci tangan yaaa.. Cari informasi yang valid agar tidak terpancing isu simpang siur. Usahakan agar tidak panik (cari video di youtube mind and brain Indonesia terkait stress) dan stay connected dengan sahabat serta keluarga melalui media sosial.

Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *