👽 Pikiran Konspirasi

Belakangan ini, di tengah keberlangsungan pandemi virus corona, banyak beredar cerita mengenai konspirasi virus tersebut. Banyak orang yang percaya bahwa virus ini diciptakan untuk kepentingan dan keuntungan pihak tertentu. Teori konspirasi yang beredar di antaranya menyatakan bahwa virus ini berasal dari laboratorium di Wuhan sebagai senjata biologis; diciptakan oleh Bill Gates dan organisasi kesehatan dunia WHO untuk kepentingan bisnis (Nurlatifah, 2020); sengaja diciptakan untuk kepentingan politik, atau bahkan berasal dari luar angkasa (Mahardhika, 2020). Teori-teori ini bisa saja benar, namun bisa juga salah. Belum ada penelitian yang dilakukan untuk membuktikan kebenaran teori konspirasi ini, dikarenakan kurangnya bukti yang kuat. Walaupun kebenarannya belum terungkap, ternyata tidak sedikit orang yang sudah mempercayainya. Nah, pada artikel ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk sama-sama belajar, sebenarnya apa itu teori konspirasi? mengapa sebagian orang mempercayainya? bagaimana kaitannya dengan aspek kognitif manusia? apa saja kemungkinan dampak yang diakibatkannya? dan hal apa saja yang dapat kita lakukan dalam menghadapi isu konspirasi ini? Yuk kita simak, cekidot!

Definisi umum dari teori konspirasi adalah keyakinan bahwa sekelompok orang atau organisasi secara diam-diam atau secara rahasia merencanakan suatu peristiwa dengan tujuan mencapai beberapa tujuan kejahatan (Bale, 2007). Oliver & Wood (2014) mengidentifikasi bahwa teori konspirasi biasanya muncul selama masa krisis, seperti periode ketidakstabilan politik, ekonomi, dan krisis kesehatan masyarakat termasuk di dalamnya wabah penyakit. Jika tidak berhati-hati, percaya pada teori konspirasi dapat saja menimbulkan kerugian, itulah sebabnya kita perlu mempelajarinya. Dengan lebih memahami bagaimana kemunculan dan penyebaran teori konspirasi, kita lebih dapat menanggulangi dampak kerugiannya seperti dengan mengusulkan langkah-langkah konkret untuk lebih mendidik masyarakat dan mencegah mereka mudah terpancing oleh narasi ini.

Mengapa sebagian orang percaya pada teori konspirasi?

Menurut Jost, Ledgerwood, dan Hardin (2008 dalam Douglas, Sutton, & Cichocka, 2017) ada tiga hal yang membuat sebagian orang lebih tertarik pada teori konspirasi dibandingkan dengan penjelasan non konspirasi. Pertama, teori konspirasi lebih menarik bagi banyak orang karena dianggap dapat memuaskan keinginan untuk menjaga citra positif pada diri atau kelompok. Menurut Meagan (2020), hal ini berkaitan dengan keterikatan manusia sebagai suatu kelompok. Manusia selalu hidup dalam kelompok, suku, atau komunitas. Menjadi bagian dari kelompok yang percaya pada satu hal tertentu dapat memberikan rasa kebersamaan dan rasa memiliki. Hal ini juga membantu manusia memenuhi salah satu psychological needs menurut Maslow, yaitu belongingness (merasa termasuk dalam suatu perkumpulan). Berkumpul dengan orang-orang yang memiliki kepercayaan yang sama, tidak peduli seberapa aneh dan tidak rasionalnya, membantu kita untuk merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu.

Hal tersebut bisa dijelaskan dengan teori identitas sosial. Individu membentuk suatu kelompok karena menganggap diri mereka sebagai anggota dari kategori sosial yang sama, dan karenanya berbagi identitas sosial (Turner & Reynolds, 2011 dalam Everett, Faber, dan Crockett, 2015). Dalam teori identitas sosial, terdapat istilah ingroup dan outgroup. Ingroup adalah kelompok sosial dimana seseorang termasuk anggotanya dan memiliki identitas yang sama. Sedangkan outgroup adalah kelompok sosial di mana individu bukan termasuk anggotanya dan memiliki identitas yang berbeda (Turner dkk., 1987 dalam Everett, Faber, dan Crockett, 2015). Terdapat istilah in group bias dimana seseorang memiliki kecenderungan untuk menganggap kelompok lain tidak lebih baik dibandingkan kelompok sendiri. Maka, apapun yang kelompok dirinya yakini akan dianggap lebih benar dan lebih baik dibandingkan kelompok lain.

Kedua, teori konspirasi memberikan pemenuhan motif psikososial yang penting, yang dapat dicirikan sebagai epistemic (berkaitan dengan pengetahuan dan validasinya), seperti keinginan terhadap pemahaman, keakuratan, dan kepastian subjektif. Menurut Douglas, Sutton, dan Cichocka (2017), hal-hal terkait epistemic atau keinginan terhadap pemahaman, keakuratan, dan kepastian subjektif dapat disebabkan oleh keinginan untuk memuaskan keingintahuan yang sangat tinggi ketika informasi tidak tersedia, untuk mengurangi ketidakpastian dan kebingungan ketika informasi yang ada bertentangan, dan untuk mempertahankan kepercayaannya dari orang-orang yang tidak menyetujuinya.

Whitson dan Galinsky (2008) juga melakukan eksperimen terhadap sekelompok orang yang menyatakan bahwa kepercayaan pada teori konspirasi akan lebih kuat ketika motivasi seseorang untuk menemukan suatu pola pada suatu lingkungan meningkat. Menurut mereka, perasaan memiliki kontrol (dalam eksperimen tersebut, dapat menemukan suatu pola) berperan secara signifikan pada kemungkinan orang dalam menciptakan hal-hal yang tidak ada. Pada eksperimennya, ia menggunakan 24 gambar. Mereka menyuruh kelompok pertama untuk menemukan gambar lain yang tersembunyi dari 12 gambar yang buram. Hal ini memang sulit namun mungkin untuk dipahami. 12 gambar lainnya dimanipulasi menggunakan perangkat lunak (software) untuk menghilangkan jejak gambar tersembunyi yang ada. Peserta diminta untuk mengidentifikasi apakah ada gambar atau tidak dan, jika ada, mereka diminta menjelaskan apa gambar tersebut.

Hasilnya, partisipan yang memiliki kontrol yang rendah (dalam eksperimen ini yaitu tidak dapat menemukan suatu pola), justru malah melihat lebih banyak gambar dibandingkan dengan partisipan pada kelompok yang tidak dimanipulasi (Whitson & Galinsky, 2008). Penelitian ini menyatakan bahwa orang yang memiliki kontrol yang rendah diketahui memiliki lebih banyak kemungkinan konspirasi dibandingkan yang memiliki kontrol lebih tinggi. Kesimpulannya, otak tidak selalu melihat apa yang mata lihat. Jika terdapat celah atau kebingungan, otak akan mengisi celah tersebut dengan apa yang kita percayai ada di sana (Zadina, 2014). Fenomena ini juga berlaku pada pihak yang merasa kekuatan mereka sedang terancam, dan hal inilah yang menjadi alasan mengapa begitu banyak diktator percaya bahwa rakyatnya bersekongkol melawan mereka.

Selanjutnya, penyebab yang ketiga adalah karena teori konspirasi dianggap dapat memuaskan keinginan psikologis dasar manusia terhadap kontrol dan keamanan (Jost, Ledgerwood, dan Hardin, 2008 dalam Douglas, Sutton, & Cichocka, 2017) serta ketenangan pikiran (Meagan, 2020). Menurut Maslow’s Hierarchy of Needs, setelah kebutuhan fisiologis seperti makanan dan tempat tinggal, perhatian utama manusia selanjutnya adalah keamanan.

Pada masa kini, dimana akses terhadap internet semakin mudah, kita dapat mendapatkan informasi secara terus-menerus bahkan kebanjiran informasi. Padahal, informasi-informasi yang beredar tersebut belum tentu benar adanya. Informasi tersebut dapat membuat kita merasa cemas dan takut, yang menyebabkan otak kita berusaha memberikan jawaban, tujuannya lagi-lagi agar otak kita merasa nyaman dan aman. Kita juga akan merasa cemas dan terancam ketika kita tidak mengetahui sesuatu. Akibatnya, kita akan mencoba mempercayai suatu informasi karena berada di kondisi “mengetahui sesuatu (in the known)” akan membuat seseorang merasa aman dan tenang karena merasa memiliki pengetahuan di antara ketidaktahuan, sementara orang lain di luar sana belum tentu memiliki informasi seperti dirinya. Konsekuensinya, mereka yang percaya pada teori konspirasi cenderung kurang ramah dan berinteraksi dengan jejaring sosial yang lebih kecil.

Selain itu, kepercayaan terhadap teori konspirasi dapat dihasilkan dari ketidaktahuan atau ketidak pahaman akan betapa kompleksnya struktur sosial seperti pemerintahan dan komunitas ilmiah benar-benar bekerja (Meagan, 2020). Sebagai contoh, pada kasus jatuhnya penerbangan MH370, korespondensi negara-negara asing pada kasus tersebut dapat dilihat sebagai bukti konspirasi, padahal hal tersebut merupakan prosedur standar dari protokol diplomatik.

Lantas, jika kita telisik dalam perspektif neuropsikologi, mengapa otak kita suka teori konspirasi?  Bagaimana mekanismenya?

Odell (2019) berpendapat bahwa ada hal yang membuat otak kita lebih menyukai teori konspirasi. Otak manusia terhubung untuk melihat pola untuk membantu kita bertahan hidup. Meagan (2020) menambahkan bahwa otak manusia merasa perlu menguraikan pola terutama dalam kondisi dimana terdapat banyak fakta yang tidak beraturan. Mengapa otak mencari pola? Sebagai bagian dari evolusi kita sebagai manusia, kita diprogram untuk mengenali lingkungan. Indera manusia dapat menyerap banyak informasi sekaligus, dan otak kita mencoba untuk menempatkan semuanya menjadi sebuah perspektif. Hal ini membantu kita untuk memahami dunia dan membuat kita aman dari ancaman yang tiba-tiba terjadi. Ketika otak kita melihat kumpulan peristiwa yang acak, maka kita akan berupaya mencari satu landasan yang akan menyatukan semuanya. Oleh karena itu, semakin banyak ketidakpastian, semakin besar kemungkinan seseorang untuk percaya pada konspirasi, seperti berpikir bahwa pihak yang memiliki kekuatan atau kekuasaan, seperti pemerintah, sebenarnya memegang kendali atas sebuah kejadian.

Lebih lanjut, pemrosesan pola menjadi semakin canggih seiring dengan perluasan korteks serebral, khususnya korteks serebral dan daerah yang terlibat dalam pemrosesan gambar. Ketika otak manusia berevolusi, otak menjadi sangat pandai menemukan pola sehingga terkadang melihat pola dalam data yang benar-benar tidak terhubung. Orang yang percaya pada teori konspirasi memiliki otak yang lebih rentan terhadap persepsi pola ilusi, termasuk menemukan koneksi yang sebenarnya tidak ada.

Namun, mengapa otak kadang-kadang melihat koneksi yang sebenarnya tidak ada? Para neurologist percaya bahwa hal tersebut mungkin dikarenakan dopamin yang berlebihan di otak mereka. Dopamin adalah neurotransmitter yang terlibat dalam emosi, penghargaan, dan kognisi. Dopamin dianggap sangat penting dalam pengambilan keputusan, karena dapat membantu seseorang menemukan signal in noise. Orang dengan tingkat dopamin yang lebih tinggi secara genetik lebih cenderung percaya pada teori konspirasi. Bahkan, dalam suatu eksperimen dimana obat untuk meningkatkan kadar dopamin diberikan kepada orang yang tidak percaya konspirasi, mereka pada akhirnya berperilaku lebih seperti orang yang percaya konspirasi yaitu melihat pola dalam gambar yang acak.

Teori dopamin juga tidak terlepas dari salah satu gangguan psikologis yang membuat individu mempunyai pola pikir yang delusional, misalnya Skizofrenia. Banjir dopamin dapat  membuat otak mempersepsikan semua hal yang terjadi adalah sangat amat penting dan sangat amat terkait dengan dirinya. Misalnya saja, mereka dapat mempersepsikan pembawa acara di TV sedang berbicara langsung kepadanya atau bahkan ada sosok ghaib yang mendatanginya dan menobatkannya menjadi orang suci atau bahkan nabi. Banjir dopamin di otak juga bisa ditemukan ketika individu mengkonsumsi narkoba, dan kita tahu beberapa jenis narkoba bisa mengubah realita kita. Kita bisa tertawa pada hal yang sifatnya netral, kita bisa merasa ringan dan terbang, atau kita bisa merasa paranoid bahwa ada polisi yang sedang mengintai kita.

Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua teori konspirasi bersifat patologis (abnormal), dan justru banyak teori konspirasi yang disebabkan oleh kecenderungan kognitif dan bawaan neurologis.  Sebagai contoh, berikut adalah perbedaannya. Gangguan paranoia percaya pada anggapan bahwa dirinya merasa terancam secara pribadi, namun anggapan tersebut hanya bekerja pada level pribadi, bukan pada kelompok. Sedangkan, teori konspirasi berkaitan dengan persepsi ancaman sebagai kelompok (Van Prooijen & Van Lange 2014). Dalam teori konspirasi, hal-hal yang tidak menguntungkan (misalnya terjadinya pandemi virus) tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa tujuan, melainkan beranggapan bahwa pasti terdapat aktor yang menjadi dalang dari kejadian tersebut (Guthrie, 1995).

Lalu, kenapa ada sebagian orang yang tetap percaya pada teori konspirasi bahkan ketika tidak ada bukti tentang hal tersebut?

Jawabannya adalah confirmation bias! Begitu otak melihat suatu pola, informasi yang mendukungnya akan dengan mudah berasimilasi dengan otak dan memperkuat kepercayaan pada pola itu. Otak memperhatikan informasi hanya karena ia setuju dengan keyakinan saat ini, sementara ia akan mengabaikan apapun yang bertentangan.

Ironisnya, ledakan informasi di internet telah berkontribusi pada memburuknya masalah, bukannya membuat lebih baik. Para ahli teori konspirasi sekarang dapat mengumpulkan banyak informasi yang salah yang hanya bertindak untuk memperkuat keyakinan konspirasi mereka. Amigdala dan insula akan meningkatkan alarm dalam situasi yang tidak pasti. Perasaan ketidakberdayaan dapat memaksa seseorang untuk mencoba menemukan keteraturan dalam kekacauan, dan hal tersebut menyebabkan seseorang menemukan pola yang sebenarnya tidak ada.

Pengaruh W orldview terhadap kepercayaan pada teori konspirasi

Penelitian psikologis baru-baru ini mendukung gagasan bahwa sistem kepercayaan menyeluruh  / memusat (overarching belief) merupakan hal yang penting dalam menerima teori konspirasi (Wood dan Douglas, 2013 dalam Dagnall dkk., 2015). Dalam konteks ini, gagasan pandangan (worldview) mengenai dunia konspirasi menjadi penting. Secara umum, pandangan dunia (worldview) mengacu pada seperangkat asumsi yang saling terkait tentang sifat dunia (nature of the world) (Overton, 1991   dalam Dagnall dkk., 2015)  , yang bertindak sebagai lensa interpretatif untuk memahami realitas dan eksistensi (Miller dan Barat, 1993). Secara khusus, pandangan dunia konspiratif didefinisikan oleh keyakinan tingkat tinggi (mis., ketidakpercayaan terhadap otoritas, keyakinan bahwa tidak ada yang seperti kelihatannya, dan penipuan), yang memfasilitasi pemikiran konspirasi (Goertzel, 1994; Swami dkk., 2010; Wood dkk., 2012 dalam Dagnall dkk., 2015).

Konsep pandangan dunia (worldview) berkaitan dengan mentalitas konspirasi  (Imhoff dan Bruder, 2014 dalam Dagnall dkk., 2015). Imhoff dan Bruder (2014, dalam Dagnall dkk., 2015) menyatakan bahwa dukungan terhadap teori konspirasi tertentu sangat bergantung pada apakah seseorang menerima keyakinan konspirasi secara umum. Dari perspektif ini, mentalitas konspirasi  menghasilkan sikap politik yang terkait dengan perilaku kurang percaya kepada pihak yang berkuasa. Mentalitas konspirasi berkaitan dengan prasangka terhadap kelompok berkekuatan tinggi yang dianggap kurang disukai dan lebih mengancam daripada kelompok berkekuatan rendah. Artinya, memang adanya pemikiran konspirasi tidak terlepas dari kepentingan politik juga. Seperti yang disampaikan oleh salah satu akun konspirasi terkenal di Indonesia yang membahas mengenai Flat Earth Society, bahwa mereka mendalami dan membagi informasi konspirasi salah satu tujuannya untuk membuat pergerakan juga, agar masyarakat sadar bahwa ada sistem yang salah dan kita berada di dalamnya. Atau mungkin ada kasus lain yang teman-teman pernah dengar dimana teori konspirasi digunakan untuk kepentingan politik?  Meskipun begitu, mentalitas konspirasi tidak selalu menghasilkan paranoia, resistensi atau sampai memicu pergerakan atau bahkan sampai pada pemberontakan. Mentalitas konspirasi dapat juga dimanifestasikan sebagai keinginan untuk mencari kebenaran dan kemajuan sosial.

Karakteristik pandangan dunia (worldview) konspirasi cenderung membuat individu menjauh dari pemrosesan yang bersifat analytical-rational (pengujian realitas) menuju pemrosesan yang cenderung bersifat intuitive-experiential(Drinkwater dkk., 2012 dalam Dagnall dkk., 2015). Pemrosesan analytical-rational bersifat lambat, sadar, dan dipertimbangkan, sementara intuitive-experiential bersifat cepat, sebagian besar bersifat sadar, holistik, spontan, dan cukup kasar (bersifat mentah dan belum melalui pemrosesan lebih lanjut) (Irwin dan Wilson, 2013 dalam Dagnall dkk., 2015). Gaya berpikir intuitive-experiential konsisten dengan bagaimana seseorang cenderung punya pemikiran konspirasional.

Tidak jauh beda yaa dengan pembagian dikotomi pada teori REBT (Rational Emotive Behavior Therapy) dari Albert Ellis, bahwa belief system dibagi menjadi Rasional dan Irasional, atau dari teorinya Carol Dweck bahwa gaya berpikir terbagi menjadi Growth Mindset dan Fixed Mindset, atau dari Daniel Kahenman yang menyebutkan ada Fast dan Slow Thinking, ditambah juga penjelasan Le Doux dari teori neuropsikologi bahwa otak memproses informasi sensori dengan Low Road yang lebih emosional, cepat, instingtif dan High Road yang lebih lambat, penuh pertimbangan dan membutuhkan kemampuan kognitif.

Apa saja dampak dari teori konspirasi?

Teori konspirasi memiliki banyak dampak yang merugikan bagi masyarakat, baik sosial maupun psikologis. Pada tingkat sosial, teori konspirasi secara empiris dikaitkan dengan populisme (pendekatan politik yang seringkali menyebut “kepentingan rakyat” untuk menentang lawan dari “kepentingan elit”) (Silva dkk. 2017), politik ekstrimisme (Van Prooijen dkk. 2015), dan radikalisasi kelompok minoritas (Bartlett & Miller, 2010). Pada level psikologis, penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan pada teori konspirasi dikaitkan dengan paranoia (gangguan mental yang diderita seseorang yang meyakini bahwa orang lain ingin membahayakan dirinya)  (Darwin dkk. 2011), Schizotypal (gangguan aneh dalam cara berpikir), narsisme (perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan) (Cichocka dkk. 2016) dan insecure attachment (Green & Douglas 2018).

Selanjutnya, teori konspirasi dapat mengganggu perdamaian dan keharmonisan sosial, karena dapat memicu xenophobia (ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain, atau yang dianggap asing di masyarakat), sehingga memunculkan perilaku sosial yang kasar. Wabah COVID-19 telah menjadi penyebab tertinggi dari peningkatan diskriminasi dan serangan rasial di seluruh dunia pada orang yang dianggap sebagai orang Asia Timur. Tidak hanya terjadi secara offline, namun juga online di sosial media. #JeNeSuisPasEnVirus (saya bukan virus) merupakan gerakan yang menyebar di Prancis dan merupakan contoh yang jelas sebagai dampak konspirasi ini. Gerakan tersebut mencerminkan meningkatnya frustrasi warga negara Prancis-Asia yang mengalami bentuk stigma dan diskriminasi baru karena epidemi ini. Fenomena yang merugikan ini menargetkan masyarakat Asia dan bukan hanya kepada orang-orang keturunan Cina.

Dengan penyebaran tagar di antara komunitas Asia, dampak teori konspirasi menjadi semakin jelas. Berbagai forum menyiratkan bahwa kekuatan dunia lainnya menargetkan Asia, khususnya China, untuk menurunkan ekonominya dan melemahkan pertumbuhan dan ekspansi globalnya. Perekonomian Tiongkok mengalami gangguan besar sebagai akibat dari wabah COVID-19 ini. Ekspor dari obat-obatan telah menurun, dan gangguan produksi juga terjadi sehingga menyebabkan masalah pada rantai pasokan secara masif di seluruh dunia. Selain itu, kepercayaan masyarakat pada teori konspirasi juga dapat mempengaruhi perilaku masyarakat dan memiliki konsekuensi sosial yang penting, seperti berkurangnya keterlibatan sosial dalam masyarakat, ranah politik, perilaku kesehatan, perubahan iklim, dsb. (Butler dkk., 1995; Bird dan Bogart, 2005; Jolley dan Douglas, 2014 dalam Dagnall dkk., 2015).

Dalam dunia medis, percaya pada teori konspirasi dapat mempengaruhi perilaku kesehatan (Jolley & Douglas 2014). Manusia dapat berpikir bahwa penyebab penyakit bukan hanya berasal dari mikroorganisme, sel kanker atau makanan tidak sehat, tetapi lebih dari itu. Swami dkk. (2014) juga menyebutkan bahwa kepercayaan dalam teori konspirasi lebih berkaitan dengan pemikiran intuitif daripada analitis.

Perubahan perilaku kesehatan misalnya, pilihan untuk menghindari vaksinasi atau untuk menggunakan obat komplementer alternatif (misalnya, obat tambahan yang dianjurkan dokter) (Saleh, 2019). Selain dampak pada meningkatnya rasisme terhadap orang Asia, teori konspirasi Covid-19 juga memiliki dampak langsung terhadap isu kesehatan. Orang-orang yang mempercayai teori konspirasi Covid-19 cenderung menganggap bahaya Covid-19 tidak terlalu serius (Uscinski, Seelig, Wuchty, Enders, Funchion, Premaratne, Klofstad, Everett, & Murthi, 2020). Hal ini dapat berimplikasi pada pengabaian atas imbauan physical-distancing, aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar, tidak mudik,mencuci tangan, memakai masker setiap bepergian ke luar, menolak vaksin, dan perilaku kesehatan lainnya.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan dalam menghadapi kondisi ini?

Pertama, penting untuk mengetahui bahwa teori konspirasi tidak selalu bersifat patologis (abnormal), melainkan dapat merupakan pemikiran yang sangat wajar. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk berhenti percaya pada konspirasi, namun penelitian menunjukkan bahwa mungkin ada cara untuk mengubah sikap orang-orang ini (Odell, 2019). Studi menunjukkan bahwa orang akan tertarik pada teori konspirasi jika mereka merasa tidak memiliki kekuatan atau kontrol dalam kehidupan mereka sendiri. Artinya, dengan membuat seseorang menjadi berdaya dengan mendorong mereka untuk dapat mengambil berbagai  keputusan atau tindakan dalam kehidupan pribadi mereka sendiri dapat mengurangi perasaan tidak berdaya dan mengurangi ketergantungan pada teori konspirasi. Juga dalam arti lain, individu perlu punya self esteem dan kapasitas mental psikologis yang baik agar tetap fokus meningkatkan kreativitas dan produktivitas diri.

Selain itu, kita juga bisa mengajak orang lain untuk meningkatkan literasi dan kesadaran akan ilmu pengetahuan dan fakta, serta bersikap kritis akan kebenaran sebuah informasi. Karena apabila kita mengabaikannya, masyarakat akan termakan dengan banyak hoax tanpa terdorong untuk berpikir ulang terkait kebenaran informasi. Dan dengan mudahnya informasi tersebar di era sekarang ini, maka akan menjadi potensi bahaya yang besar untuk bangsa kita. Ingat quotes terkenal dari Paul Joseph Goebbels yang juga merupakan Menteri Penerangan dan Propaganda Nazi dibawah kekuasaan Adolf Hitler “Kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus dan sistematis akan berubah menjadi (seolah-olah) kenyataan! Sedangkan kebohongan sempurna, adalah kebenaran yang dipelintir sedikit saja.”. Pada intinya, jangan sampai kita terpaku dengan teori konspirasi dan tenggelam di dalamnya, apalagi sampai menjadikannya satu-satunya teori yang kita percaya, sehingga kita menjadi emosional dan lupa untuk mengejar cinta-cita kita.

Dan mungkin saran buat pihak pemangku kebijakan (pastinya kita bukan ahlinya, tapi barangkali saran ini bisa berguna) perlu merumuskan banyak hal. Mulai dari bagaimana masyarakat Indonesia bisa lebih berdaya dan memiliki kapasitas mental yang baik. Karena nantinya, kemampuan mental sangat dibutuhkan untuk individu mau meningkatkan budaya literasi (atau sekarang termasuk literasi digital) dan budaya membaca. Bagaimana individu bisa bertahan dengan buku atau jurnal yang ia baca? sedangkan mereka tidak tahan dengan godaan game atau film streaming yang sekarang sudah ada digenggaman ?. Mungkin pemerintah harus agak mundur dan memutar sedikit, misalnya dengan menyasar para calon orang tua  agar mereka mengerti konsep pengasuhan yang tepat, sehingga anak-anaknya nanti bisa dididik agar punya kapasitas mental yang tinggi agar kuat membaca, belajar, kritis, curiosity dan juga tahan banting..!!!Terdengar menjadi seperti tugas skripsi yang harus dikerjakan oleh mahasiswa yang masih di semester satu – SUSAH tapi masih mungkin…!!

Oleh :

  1. Syifa
  2. Melsiade
  3. Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog
  4. Rinella Autrilia, S.Psi

Sumber :

  • Abaido, Ghada & Takshe, Aseel A.. (2020). COVID-19: Virus or Viral Conspiracy Theories?. 10.34297/AJBSR.2020.08.001252.
  • Andrade, G. (2020). Medical conspiracy theories: cognitive science and implications for ethics. Medicine, Health Care and Philosophy, 1-14.
  • Bale, J. M. (2007). Political paranoia v. political realism: On distinguishing between bogus conspiracy theories and genuine conspiratorial politics. Patterns of Prejudice, 41, 45-60.
  • Bartlett, J., and C. Miller. 2010. The power of unreason: Conspiracy theories, extremism and counter-terrorism. London, UK: Demos.
  • Cichocka, A., M. Marchlewska, and A. Golec de Zavala. (2016). Doe self-love or self-hate predict conspiracy beliefs? Narcissism, self-esteem, and the endorsement of conspiracy theories. Social Psychological and Personality Science 7: 157–166.
  • Dagnall, N., Drinkwater, K., Parker, A., Denovan, A., & Parton, M. (2015). Conspiracy theory and cognitive style: a worldview. Frontiers in Psychology, 6. doi:10.3389/fpsyg.2015.00206
  • Darwin, H., N. Neave, and J. Holmes. 2011. Belief in conspiracy theories: The role of paranormal belief, paranoid ideation and schizotypy. Personality and Individual Differences 50: 1289–1293.
  • Douglas, K. M., Sutton, R. M., & Cichocka, A. (2017). The psychology of conspiracy theories. Current directions in psychological science, 26(6), 538-542.
  • Green, R., and K.M. Douglas. 2018a. Anxious attachment and belief in conspiracy theories. Personality and Individual Differences 125: 30–37.
  • Guthrie, Steven. 1995. Faces in the Clouds: A New Theory of Religion. Oxford: Oxford University Press.
  • Everett, J. A. C., Faber, N. S., Crockett, M. (2015). Preferences and beliefs in ingroup favoritism.  Frontiers in Behavioral Neuroscience, 9 (15), 1-21.
  • Jolley, D., and Douglas, K. M. (2014). The social consequences of conspiracism: exposure to conspiracy theories decreases intentions to engage in politics and to reduce one’s carbon footprint. Br. J. Psychol. 105, 35–56. doi: 10.1111/bjop.12018
  • Mahardhika, A. (2020). 5 teori konspirasi paling heboh seputar virus corona. Diakses pada Juni 2020 dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4996783/5-teori-konspirasi-paling-heboh-seputar-virus-corona
  • McLeod, S. (2020). Maslow’s hierarchy of needs. Diakses pada Juni 2020 dari https://www.simplypsychology.org/maslow.html
  • Meagan, E. (2020). Why do people believe in conspiracy theories? Diakses pada Juni 2020 dari https://brainworldmagazine.com/people-believe-conspiracy-theories/
  • Nurlatifah, R. (2020). Diduga ada banyak konspirasi di balik virus corona, peneliti dalam negeri buka suara. Diakses pada Juni 2020 dari https://cirebon.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-04391038/diduga-ada-banyak-konspirasi-di-balik-virus-corona-peneliti-dalam-negeri-angkat-suara
  • Odell, S. [Inverse]. (2019). (2011, Juni). A Neuroscientist Explains What Conspiracy Theories Do To Your Brain. Diakses pada https://www.youtube.com/watch?v=z98U1nMFrJQ&t=12s
  • Oliver, J. E., & Wood, T. (2014). Medical conspiracy theories and health behaviors in the United States. JAMA Internal Medicine, 174, 817–818.
  • Saleh, Naveed. (2019). Can medical conspiracies influence health behaviors?. https://www.mdlinx.com/article/can-medical-conspiracies-influence-health-behaviors/lfc-4228
  • Silva, B.C., F. Vegetti, and L. Littvay. 2017. The elite is up to something: Exploring the relationship between populism and belief in conspiracy theories. Swiss Political Science Review 23: 423–443.
  • Swami, V., and Furnham, A. (2014). “Political paranoia and conspiracy theories,” in Power Politics, and Paranoia: Why People are Suspicious about their Leaders, eds J.-W. van Prooijen and A. M. P. van Lange (Cambridge: Cambridge University Press), 218–236.
  • Uscinski, J. E., Seelig, M., Wuchty, S., Enders, A. M., Funchion, J., Premaratne, K., Klofstad, C., Everett, C., & Murthi, M. (2020). Why do people believe covid-19 conspiracy theories?. https://misinforeview.hks.harvard.edu/article/why-do-people-believe-covid-19-conspiracy-theories/#0
  • Van Prooijen, J.-W., and P.A.M. Van Lange. 2014. The social dimension of belief in conspiracy theories. In Power, politics, and paranoia: Why people are suspicious of their leaders, ed. J.-W. van Prooijen and P.A.M. van Lange. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Van Prooijen, J.-W., A.P.M. Krouwel, and T. Pollet. 2015. Political extremism predicts belief in conspiracy theories. Social Psychological and Personality Science 6: 570–578. https://doi.org/10.1177/1948550614567356.
  • Whitson, J. A., & Galinsky, A. D. (2008). Lacking control increases illusory pattern perception. science, 322(5898), 115-117
  • Zadina, J. (2014). Multiple pathways to the student brain: Energizing and enhancing instruction. John Wiley & Sons.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *