🎞 Mengenal Memory di Otak kita

Manusia merupakan makhluk yang akan selalu belajar. Baik secara sadar maupun tidak, kita akan selalu menyimpan informasi dan akan kita gunakan sebagai pembelajaran untuk berespon di masa depan. Namun, tahukah kamu apa yang ada dibalik kemampuan kita untuk terus belajar dalam kehidupan ini? salah satu yang paling berperan penting dalam hal ini adalah memori atau ingatan. Pada tulisan kali ini kita akan sedikit mengupas tentang memori di otak kita. Bagaimana mekanisme memori itu terbentuk ? Apakah seperti menyimpan file di laptop atau computer ? lalu, apakah bisa kita delete ? mengapa kita bisa lupa ? atau mengapa kita bisa mengingat sesuatu ?.

Memori membuat kita terus menerus menyimpan apa yang pernah kita pelajari dari hal-hal disekitar kita. Mulai dari kegiatan yang mungkin tidak secara sadar kita pelajari seperti berbicara, berjalan, mengenal masa lalu, memiliki konsep diri dan suatu tempat, hingga kegiatan yang membutuhkan kompleksitas kognisi tingkat tinggi seperti menyelesaikan persamaan dalam fisika teoretis, semua hal ini dapat kita lakukan karena adanya memori di otak. Siklus yang terjadi dalam memori ini akan selalu dimulai dari proses encoding (pengkodean atau pemasukan informasi), storage (penyimpanan informasi ke dalam ingatan), dan diakhiri dengan proses retrieval (pengambilan informasi dari ingatan). Memori menghubungkan masa lalu kita dengan masa kini dan memungkinkan kita untuk memproyeksikannya ke masa depan, sehingga dapat memengaruhi langkah kita selanjutnya. Maka dapat dibayangkan apabila kita hidup tanpa memori? semua yang terjadi akan terus terasa seperti baru, karena tidak ada ingatan kita pernah melakukan atau mempelajarinya.

Untuk mengetahui dimana semua ingatan kita tersimpan, maka kita harus memahami terlebih dahulu, bahwa memori terbagi menjadi 2 kategori besar, yaitu memori jangka pendek (short-term memory) dan memori jangka panjang (long-term memory).

Kita menangkap semua stimulus informasi lingkungan melalui indera di tubuh kita. Namun, hanya informasi yang kita beri atensi-lah yang akan diproses lebih jauh di otak. Misalnya, sepulang pertemuanmu dengan sahabatmu di taman kota, kamu hanya akan teringat beberapa bait kalimat ceritanya dan bagaimana ekspresinya bercerita. Kamu tidak akan ingat ada berapa orang di taman itu. Berapa kucing yang lewat di depanmu. Berapa tukang jualan yang berjejer di pinggir jalan, dan berbagai hal lainnya.  Yes, karena kamu tidak menaruh atensimu kecuali hanya untuk cerita sahabatmu. Informasi yang kita berikan atensi tersebut akan diproses di otak kita, tepatnya dibagian lobus temporal dan hipokampus. Proses ini membentuk memori jangka pendek atau ingatan yang hanya tersimpan sementara di otak, sebelum dipindahkan ke ingatan jangka panjang atau dibuang. Memori jangka pendek ini juga bisa dimanipulasi oleh bagian otak yang bernama korteks prefrontal ( Prefrontal Cortex) dan proses ini disebut sebagai working memory. Penyimpanan informasi dalam memori jangka pendek ini hanya terbatas selama kurang dari sekitar 18 detik tanpa adanya manipulation atau rehearsal (Revlin, 2012), juga kapasitasnya terbatas hanya sejumlah 5 sampai 9 potongan atau slot dalam satu waktu (pertama kali diusulkan oleh Miller, 1956). Dengan demikian, misalkan kita mengingat suatu kata di dalam memori jangka pendek, maka kita hanya dapat mengingat minimal sejumlah 5 kata dan paling banyak 9 kata, serta kata-kata tersebut hanya mampu bertahan maksimal selama 18 detik saja.

Short-term memory membutuhkan rehearsal dalam proses mengigat. Misalnya, jika kita disuruh untuk menghafal huruf DSHAZLM dan kemudian ada sesuatu yang mengganggu Anda, kesempatan Anda untuk mengulang huruf-huruf menurun dengan cepat (Peterson & Peterson, 1959). Untuk menggantikan konsep short-term memory, A. D. Baddeley dan G. J. Hitch (1994) memperkenalkan istilah working memory. Yaitu cara kerja otak untuk menyimpan informasi saat sedang mengerjakan sesuatu. Tugas working memory adalah delayed-response-test di mana kita menanggapi sesuatu yang telah kita lihat atau kita dengar beberapa waktu yang lalu. Dalam sebuah eksperimen partisipan diminta untuk fokus pada titik cahaya, sebuah cahaya berkedip sebentar di beberapa titik menuju pinggiran. Kemudian partisipan tersebut menatap titik pusat itu selama beberapa detik sampai terdengar bunyi bip, dan kemudian harus melihat lagi ke tempat cahaya sebelumnya. Selama terjadi penundaan partisipan harus menyimpan representasi dari stimulus. Selama penundaan tersebut, sel-sel tertentu di korteks prefrontal dan parietal meningkat, dan sel-sel yang berbeda menjadi aktif tergantung pada arah yang perlu diambil oleh gerakan mata (Chafee & Goldman-Rakic, 1998; Constantinidis & Klingberg, 2016).

Selanjutnya, memori jangka panjang merupakan memori yang dapat bertahan selama bertahun-tahun dan dikodekan di bagian otak yang bernama korteks serebral. Memori jangka panjang ini dapat dibagi menjadi 2 jenis memori, yaitu memori eksplisit dan memori implisit. Memori eksplisit yang disebut juga sebagai memori deklaratif menyimpan informasi berupa fakta dan peristiwa, termasuk orang, objek, dan tempat. Kita membutuhkan upaya secara sadar untuk mengingat informasi-informasi dalam memori deklaratif ini, sebagai contoh untuk mengingat nama dan wajah seseorang, suatu tempat, materi pelajaran, dan segala pengetahuan lainnya tentang dunia yang telah kita pelajari sebelumnya,  maka diperlukan kesadaran untuk mengingatnya. Memori ini akan diproses di bagian otak yang bernama lobus temporal medial dan hipokampus.

Pemrosesan memori eksplisit, melibatkan empat proses terkait yang berbeda (Kandel et al., 2012). Sebagai berikut:

  1. Encoding (pengkodean atau pemasukan informasi)

Informasi yang masuk agar dapat kita ingat harus “dikodekan dengan baik”, atau dapat disebut “deep” encoding (Craik & Lockhart, 1972). Pengkodean ini terjadi ketika kita memperhatikan suatu informasi baru dan mengaitkannya dengan pengetahuan sebelumnya. Motivasi untuk mengingat (yang mungkin melibatkan perhatian yang lebih terfokus) berkorelasi dengan pengkodean yang dalam (deep encoding). Selain itu, tidur dan bermimpi juga dapat berperan dalam hal ini, karena saat kita tertidur pengalaman pada hari tersebut akan di proses Kembali di otak dan diasosiasikan dengan berbagai memori yang sudah terbentuk.

  1. Storage (penyimpanan informasi)

Dalam proses ini, informasi yang telah dimasukkan dari proses sebelumnya akan disimpan dalam memori. Storage melibatkan mekanisme saraf dan rancangan saraf yang dihasilkan untuk mempertahankan pembelajaran yang sudah terbentuk dari waktu ke waktu. Dalam Bahasa sederhana, storage  ini merupakan proses dimana saraf saling terhubung untuk mempertahankan jejak memori di otak kita.

  1. Consolidation

Setelah koneksi saraf dibuat untuk mempertahankan jejak memori, konsolidasi membuat koneksi saraf tersebut menjadi lebih stabil. Dalam hal ini, konsolidasi akan membuat ingatan menjadi lebih tahan lama. Proses kompleks ini melibatkan ekspresi gen, sintesis protein, dan perubahan koneksi sinaptik.

  1. Retrieval (pengambilan informasi)

adalah proses konstruktif yang menyatukan kembali berbagai elemen dari ingatan dan merekonstruksinya menjadi sebuah “hal yang kita ingat”. Proses retrieval menunjukkan bahwa memori di otak sangat terbuka untuk perubahan pada encoding (distortion) dan juga untuk konsolidasi ulang (reconsolidation) dalam bentuk yang berbeda dari yang semula dikodekan atau bahkan dari yang terakhir dikonsolidasi-kan. Dengan kata lain, indeed… memori bisa berubah..!!

Kemudian, jenis memori jangka panjang yang kedua adalah memori implisit. Memori yang disebut juga sebagai memori prosedural ini merupakan memori yang berkaitan dengan keterampilan dan kebiasaan yang tidak memerlukan perhatian secara sadar untuk diingat. Misalnya, bagaimana cara kita berjalan, berbicara, menyetir mobil, bermain sepeda dan keterampilan-keterampilan khusus lainnya yang telah dipelajari. Memori implisit ini membuat kita dapat melakukannya secara otomatis, tanpa perlu berusaha mengingatnya secara sadar. Memori ini di proses di dalam beberapa bagian otak, yaitu neokorteks, striatum, amigdala, otak kecil, dan jalur refleks. Secara detail, memori implisit ini dikategorikan sebagai: a) Priming (peningkatan persepsi kata atau objek berdasarkan pengalaman sebelumnya, diproses di neokorteks); b) Procedural (keterampilan dan kebiasaan, diproses di striatum); c) Associtive learning (pengkondisian klasik dan operant seperti pembelajaran tentang rasa takut yang di proses di amigdala dan pembelajaran keterampilan motorik yang di proses dalam otak kecil); dan d) Non-associative learning (pembiasaan dan sensitisasi pada reflex pathways) (Kandel et al., 2012).

Berikutnya, mekanisme seperti apa yang membuat terjadinya penyimpanan dalam memori kita? Menurut Kandel dan peneliti memori lainnya, pengulangan (repitition) adalah salah satu mekanisme di mana informasi yang diterima diubah dari memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang melalui ekspresi gen yang diubah dan pertumbuhan koneksi sinaptik yang baru. Iya betul, setiap kamu mengingat dan belajar sesuatu bisa terjadi perubahan pada genetikmu..!!!. Perubahan ini dinamakan sebagai experience-dependent neuroplasticity, yang memerlukan sintesis protein untuk menciptakan koneksi sinaptik yang lebih permanen diantara neuron. Neuroplastisitas adalah sebuah potensi yang dimiliki oleh otak kita untuk dapat me-model ulang koneksi neuron di otak. Bisa membentuk sambungan baru atau bahkan sebaliknya, mencukur habis koneksi tersebut. Ketika kita melakukan pengulangan informasi, di dalam otak kita terjadi aktivasi secara electrochemically yang berulang dari sebuah neuron yang sama. Akibatnya terjadi perubahan pada inti sel atau yang kita sebut nucleus, tempat dimana gen berada. Yang mendorong pada muncul dan bertumbuhnya koneksi sinaptik yang baru. Terbentuknya koneksi yang kuat karena adanya pengulangan belum tentu menjamin akan menjadi long-lasting memory. Ingat prinisip neuroplastisitas, use it or lose it, jika tidak rutin kita ulang-ulangi lagi memori tersebut. Makin lama kaan makin pudar. Coba sekarang kamu ingat, bisa kah kamu menyebutkan semua nama teman-teman di sekolah dasar mu? Lalu coba jawab jujur kira-kira berapa persen topik pembelajaran sewaktu sekolah dasar yang kamu masih ingat sekarang ?.

Namun demikian, sebenarnya suatu pembelajaran atau peristiwa yang terjadi hanya satu kali tanpa pengulangan pun tetap dapat membentuk memori di otak kita dengan sangat stabil dan bertahan lama, dengan syarat diikuti dengan emosi yang kuat. Proses ini bisa disebut one-trial learning. Sebagai contoh, seseorang yang mengalami pengalaman ditodong senjata yang membuatnya melibatkan emosi kuat seperti rasa takut, cenderung akan senantiasa mengingat peristiwa traumatis tersebut dalam jangka waktu yang lama, meskipun peristiwa ditodong senjata tersebut hanya terjadi satu kali selama hidupnya. Mungkin kamu lebih familiar dengan istilah trauma. One-trial learning ini bisa juga dipakai untuk menjelaskan mengapa pengalaman traumatis bisa sangat membekas di pikiran seseorang.

Berikut merupakan gambaran sederhana pada proses konsolidasi untuk pembentukan long-term implicit memory.  Ketika kita berlatih tangga nada pada piano, maka terjadilah aktivasi berulang dari satu set neuron, hal ini membuat terjadinya peningkatan pada sinyal di dalam sel (intracellular signaling) yang ditandai dengan meningkatnya aktivitas cyclic adenosine 3’,5’-cyclic monophosphate (cAMP). Lalu, pada gilirannya akan mengaktifkan enzim bernama protein kinase (PKA) yang akan melakukan dua hal; pertama mentranslokasi ke dalam inti sel untuk mengaktifkan transcription factors yang dapat mengaktifkan transkripsi gen kita bernama cAMP response element binding protein 1 (CREB-1). CREB-1 akan mengaktifkan transkripsi gen sambal juga mengaktifkan enzim bernama mitogen-activated protein kinase (MAPK) (yang menghentikan repressor gen penghambat CREB-2). Kemudian, setelah diaktifkan, CREB-1 akan mempengaruhi downstream genes dan menstimulasi pertumbuhan koneksi sinaptik yang baru. Pada memori eksplisit, prosesnya kurang lebih mirip. Namun, memori eksplisit akan menggunakan NMDA receptor dan dopaminergic system untuk mengaktifkan cAMP/PKA di dalam neuron yang secara berjenjang akan membuat koneksi menjadi lebih stabil.

Perubahan pada proses elektrokimiawi pada neuron akan sangat mempengaruhi pembentukan memori di otak. Begitu pula dengan obat-obatan, narkoba, atau makanan dan minuman yang kita konsumsi dapat mempengaruhi hal tersebut. Khusus untuk topik ini nanti akan kita bahas di artikel sendiri ya.

Hippocampus (sumber wikipedia)

Hippocampus

Atau bisa di Indonesiakan dengan kata “hipokampus”, merupakan salah satu bagian otak yang sangat penting dalam memproses ingatan kita. Karena bentuknya yang mirip dengan dua kuda laut, nama hipokampus berasal dari bahasa Latin yaitu hippos yang berarti kuda. Bagian ini memiliki peran dalam pengkodean memori eksplisit, seperti pembelajaran yang kita dapat ketika dibangku sekolah atau kuliah, termasuk di dalamnya informasi spasial. Hipokamus juga berperan membantu kita untuk dapat memahami informasi baru berdasarkan informasi yang dipelajari sebelumnya.

Otak memiliki dua buah bagian yang biasa kita sebut dengan hemisfer, yaitu hemisfer kiri dan kanan. Begitu pula dengan hippocampus yang berada pada subkortikal ini (otak bagian dalam) berada di kedua hemisfer. Jika terjadi kerusakan, masing-masing akan memberikan efek yang berbeda. Contohnya, kerusakan pada hipokampus kiri berhubungan dengan kesulitan dalam membentuk ingatan verbal baru, sedangkan kerusakan pada hipokampus kanan menghasilkan deficit dalam ingatan yang sifatnya non-verbal. Ingatan manusia akan bekerja dengan baik jika terdapat sebuah “konteks” dalam hal yang akan kita pelajari. Misalnya, ketika kita belajar mengenai Dan hipokampus akan menempatkan sesuatu pada konteksnya ketika mengkodenya dan menyatukan kembali berbagai ingatan kita.

Henry Molaison (HM) – (sumber Wikipedia)

Banyak sekali penelitian yang dilakukan untuk membuktikan bahwa hipokampus sangat berperan dalam fungsi kognitif manusia, terutama pada memori. Seseorang bernama Henry Molaison, atau yang lebih dikenal dengan inisial HM adalah salah satu pasien penting yang pernah jadi ‘kelinci percobaan’ dalam mengetahui peran hipokampus. Pada tahun 1953, sebagian besar otaknya, termasuk hipokampus HM dihilangkan melalui operasi panjang karena ia menderita epilepsi. Pada saat itu belum banyak informasi penanganan yang tepat mengenai gangguan ini. Sisi positifnya, HM sembuh dan tidak mengalami kejang-kejang seperti saat ia sebelum dioperasi. Kemampuan diri dalam mempersepsi dikategorikan normal, dan kecerdasannya juga meningkat. Bahkan, kemampuan motorik HM pun peningkat dalam melakukan tugas-tugas yang membutuhkan latihan seperti menggambar sosok dari pantulannya di cermin. Namun, operasi ini juga mengakibatkan sejumlah dampak buruk bagi HM. Setelah operasinya, Ia tidak dapat mengingat detil-detil yang terjadi dalam kesehariannya. Ia tidak dapat mengingat nama, lokasi, bahkan dokter-dokter yang merawatnya selama di rumah sakit. Ia juga mengalami retrograde amnesia, dimana ia bisa mengingat kejadian yang terjadi di hidupnya hingga dua tahun sebelum operasi dilaksanakan.

Hal ini memberikan gambaran kepada peneliti bahwa hipokampus sangat berperan penting dalam pembentukan memori, khususnya dalam penyimpanan dan proses mengingat kembali memori jangka panjang. Disisi lain, HM masih bisa mengerjakan tugas yang membutuhkan latihan, seperti menggambar sebuah figure dari refleksi kaca. Kemampuan HM semakin hari terlihat ada peningkatan; ia mampu belajar koordinasi keterampilan motorik dalam menyelesaikan tugasnya. Dari tugas tersebut kita bisa mengerti bahwa ia masih bisa mengkonsolidasi memori implisit, tapi dia tidak mampu mengingat bahwa ia pernah berlatih melakukan tugas itu (memori eksplisit). Jadi kalau ditanya, “apakah kamu pernah melakukan tugas ini?”, maka dia akan menjawab “belum pernah”. Meskipun begitu, faktanya gambar figure yang ia buat semakin baik tiap harinya. Persis seperti film 50 first dates, ada yang pernah nonton ???.

Bagian otak yang diambil dari kasus HM (sumber allpsych.com)

Robert Moss (2016) menjelaskan bahwa si hipokampus tidak berperan sebagai mesin penyimpanan, melainkan mesin asosiasi. Karena perannya dalam mengumpulkan berbagai elemen yang tersimpan di korteks menjadi coherent and meaningful recall atau ingatan yang koheren dan bermakna buat kita. Ketika kita membutuhkan berbagai bits dari informasi untuk membentuk sebuah ingatan, sel-sel di hipokampus menjadi aktif dan mencoba menyatukannya melalui thalamus yang terkoneksi dengan berbagai area korteks.

Namun, ada pertanyaan lanjutan yang dikemukakan peneliti.  Apakah seseorang yang memiliki kerusakan pada hipokampus dan amnesia dapat berimajinasi kejadian fiktif? Eleanor Maguire dari University College London mengatakan bahwa sebenarnya terdapat beberapa kesamaan pada bagian otak yang teraktifasi ketika mengingat sebuah kejadian ril dalam memori episodik dan ketika berimajinasi sesuatu kejadian fiktif. Namun, seseorang yang memiliki kerusakan pada hipokampus tidak dapat mengungkapkanya secara menyeluruh dan koheren, melainkan hanya beberapa elemen acak. Mungkin penjelasan sederhananya adalah untuk dapat berimajinasi, kita perlu memiliki ingatan sebelumnya mengenai hal yang terkait dengan imajinasi kita.

Recall dan Trauma

State-dependent recall menggambarkan dimana kondisi internal kita, (jika menyerupai keadaan dimana terjadi peristiwa yang signifikan) dapat memicu ingatan tertentu akan muncul dengan spontan. Mereka yang pernah mengalami trauma bisa kembali mengalami flooding back atau munculnya ingatan mengenai pengalaman traumatisnya, ketika ia mengalami peningkatan pada detak jantung, nafas, atau emosi tertent yang mirip dengan respons pada peristiwa traumatis tersebut. Jadi terbalik ya.., bukan ingatan dulu yang muncul, justru reaksi internal-lah yang pertama kali muncul dan pada akhirnya memicu munculnya ingatan. Bahkan postur tubuh juga bisa menjadi state-dependent recall.

Pengalaman traumatis

Pada kasus pengalaman traumatis dimasa anak-anak, biasanya ditemukan bahwa mereka sulit mengingat kembali ingatan yang sifatnya eksplisist. Sementara  memori emosi yang sifatnya implisit justru membanjiri mereka yang pernah mengalami PTSD (Post-traumatic stress disorder). Sampai pada satu ketika terjadi perubahan konteks pada kehidupan individualnya yang mungkin saja terjadi beberapa tahun setelahnya, dapat memicu munculnya ingatan kembali mengenai peristiwa traumatis tersebut. Dan Siegel (2012) mencoba membahas ini :

Although delayed recollection may be quite accurate, explicit memory is exquisitely sensitive to the conditions of recall. Recounting the elements of explicit autobiographical memory is a social experience that is profoundly influenced by social interaction. Thus what is recounted is not the same as what is initially remembered, and it is not necessarily completely accurate in detail. . . . actual events can be forgotten, and non-experienced “recollections” can be deeply felt to be true memories. (p. 80)”

Pikiran kita bisa sangat mudah tersugesti dan setiap usaha kita mengingat, terdapat potensi ingatan tersebut mengalami perubahan dikarenakan konteks sosial dan informasi baru.Kita dapat saja merasa yakin bahwa ingatan kita akurat 100 %, meskipun sebenarnya akan terdapat bentuk yang berbeda dari konsolidasi awal.  Ingatan tersebut bisa saja tidak seperti kejadian aslinya. Setiap kita akses ingatan kita, sambungan neuron yang sudah terbentuk menjadi aktif (karena sedang kita akses). Akan tetapi, disaat yang bersamaan, kondisi tersebut membuka kesempatan terjadinya perubahan pada sambungan neuron. Which mean memori kita akan menjadi sangat rentan untuk berubah. Memori di otak tidak seperti file foto di gadget yang setiap kita akses, selama tidak kita ubah atau kita edit maka tidak akan berubah, bahkan sampai 10 tahun kedepan (selama gadgetnya masih hidup yaa…). Memori di otak itu organik, berasal dari sebuah sel yang terkait dengan sel lainnya, yang sangat rentan mengalami perubahan.

Rekonsolidasi Memori

“Memory reconsolidation is a process in which a memory is modified at the level of its neural encoding. It is a substantive change brought about by new learning. The concept of reconsolidation is based on the understanding that when a memory is retrieved from long-term storage, it is held in a labile (unstable) state in short-term memory while it is being utilized (Nader & Hardt, 2009). “

Jadi, ketika memori sedang ditarik dari penyimpanan jangka panjang, mereka menjadi tidak stabil. Pada proses ini informasi baru terintegrasi ke dalam memori yang sudah terbentuk. Penelitian dari Bruce Ecker dan koleganya (Ecker, Ticic, & Hulley, 2012) mendemonstrasikan bahwa memori emosional bisa menjadi kuat, melemah, atau berubah dalam detailnya atau secara penuh di-nol-kan dan dibatalkan melalui proses rekonsolidasi. Jadi benar-benar, rekonsolidasi adalah sebuah proses yang terjadi di neuron yang dapat mengubah perilaku atau respions emosi dengan mengunjungi kembali memori yang terkait dengan itu (Ecker ,2015).

Biasanya memori dari pengalaman yang emosional dan traumatis akan membentuk memori pembelajaran yang sifatnya implisit. Tujuan terbentuk memori tersebut adalah agar kita bisa beradaptasi pada kehidupan yang kita persepsikan. Akan tetapi, hal tersebut menjadi maldaptif ketika individu sampai pada usia yang sebenarnya sudah tidak membutuhkan kembali dan tidak perlu merespon situasi yang sama dengan pola yang self-protective.

Membawa berbagai memori yang tersimpan ke kesadaran adalah salah satu hal awal yang harus dilakukan. Mungkin bisa dimulai dengan jargon stop and thinking. Jika kamu merasa ada emosi negative yang muncul, coba masuk ke dalam pikiranmu dan telaah apa yang sedang kamu pikirkan ?. Apapun pikiran yang sudah terlanjur terekam dalam otakmu, selalu ingat bahwa kita punya potensi untuk mengubah bagaimana makna dari ingatan itu. Bisa jadi ingatannya bersifat netral, tapi kita memaknainya begitu kaku dan negatif. So..!! Be optimistic..!! your memory is changeable..!!!

Oleh Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog., Nadia Luthfi Khairunnisa, S.Psi., Devina Faustanisa dan Pratiwi Utami.

 Sumber :

  • Dahlitz, Matthew (2017). The Psychotherapist’s Essential Guide to The Brain. Brisbane : Dahlitz Media.
  • Kalat, J.W. (2016). Biological Psychology (12th Ed). Boston: Cengage Learning

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *