👨🏻‍🦰 Membangun Kedekatan Ayah dengan Bayi

Seorang ibu secara defaultnya akan memiliki hormon oksistosin yang melimpah setelah memiliki seorang bayi. Oksitosin distimulasi dari proses melahirkan dan menyusui. Hormon ini juga disebut relationship-enhancing hormone, karena dapat meningkatkan komunikasi positif, empati, rasa saling percaya, kelekatan dan berbagai hal lainnya. Tentunya ini sangat bermanfaat untuk membangun hubungan antara ibu dan bayinya.

Seorang ayah, meskipun tidak memiliki mode otomatis seperti ibu, ternyata tidak menutup kemungkinan memiliki level oksitosin yang sama. Dari artikel penelitian berjudul “Oxytocin and the Development Parenting in Human” pada tahun 2010 menyebutkan level oksitosin ayah akan meningkat ketika adanya interaksi spesifik dengan bayi yang bersifat memberikan stimulasi, mengajak eksplorasi dan ketika mengenalkan berbagai objek kepada bayi.

Bisa jadi, kesibukan dan tekanan dipekerjaan membuat interaksi sang ayah menjadi minim dengan si bayi. Ia sudah tidak punya energi untuk bermain dengan anaknya, atau ketika bermainpun tidak fokus karena melihat gadgetnya agar tidak ketinggalan informasi. Tidak jarang juga ayah menjadi lebih emosional dan mudah marah ketika menghadapi anaknya.

Ayah perlu teredukasi mengenai hal tersebut, sehingga akan memotivasi dia untuk lebih terlibat. Terlebih banyak penelitian yang menyebutkan efek positif dari interaksi ayah dengan anak, diantaranya dalam aspek kognitif, inteligensi, kemampuan menghadapi stress, kontrol emosi, self-esteem, kemampuan bersosialisasi, kesehatan fisik, perkembangan bayi dan banyak lainnya.

Ayah perlu untuk melakukan pembiasaan dalam berinteraksi dengan bayi, karena banyak laki-laki yang memiliki karakter kepribadian yang relatif lebih kaku dan tidak ekspresif. Membuat mereka jadi canggung ketika bermain dengan bayi. Pembiasaan ini bisa dimulai sejak bayi masih dalam kandungan, dengan mengajak bicara dan bernyanyi. Lebih lanjut, istri juga bisa mengambil peran untuk melibatkan ayah dalam berbagai kegiatan menyenangkan bersama bayi, sehingga memunculkan asosiasi yang positif ayah dengan bayinya. Hal ini dilandasi dari penelitian sebelumnya yang juga menyebutkan level oksitosin pada suami dan istri dapat saling mempengaruhi satu sama lain.

Selain bermanfaat untuk anak, keterlibatan ayah dalam pengasuhan sebenarnya bermanfaat juga untuk dirinya sendiri. Keterlibatannya dapat membuatnya lebih matang secara psikologis, mampu menghadapi stress, meningkatkan self-esteem, bahkan sampai pada meningkatkan produiktivitas dalam bekerja.

Terakhir, beradaptasi dalam perubahan peran menjadi seorang ayah tidaklah berarti lebih mudah dibanding menjadi seorang ibu. Ayah juga bisa tenggelam dalam emosinya, bahkan sampai mengarah ke Baby Blues atau disebut Daddy Blues. Oleh karena itu, penting juga untuk seorang ayah belajar keterampilan mengelola emosi, sehingga dapat menghadapi berbagai tantangan dalam proses beradaptasinya. Jangan sungkan mengunjungi professional ya jika kamu mengalami kesulitan dalam hal ini ya

Oleh Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *